Apakah Anak Saya Perlu Terapi?

Apakah anak saya perlu terapi? Dan Terapi apa yang cocok dengan anak saya?

Kapan sebaiknya anak saya mulai terapi? Dan berapa lama anak saya menjalani terapi?

Berapa biaya terapinya?

Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah hal yang paling sering ditanyakan oleh Bunda jika mendapati buah hatinya “mempunyai masalah”.

Diberi tanda kutip karena “mempunyai masalah” itu relatif. Bisa obyektif dan subyektif. Karena gejalanya bisa muncul sejak masih berusia 1 tahun ataupun baru terlihat saat si anak bergaul atau berada di lingkungan baru dan bertingkah laku tidak seperti anak-anak pada umumnya.

Bisa subyektif dan bisa obyektif. Subyektif karena terkadang gejalanya hanya muncul pada kondisi tertentu saja dan masih dalam batas normal kalau dilihat dari segi medis. Obyektif karena memang selalu bertingkah laku sama di kondisi tertentu. Karena itu, diperlukan observasi dari mereka yang paham di bidangnya. Bisa psikolog, psikiater ataupun tenaga ahli terapis.

Untuk dapat memberikan terapi yang tepat, kita perlu tahu terlebih dahulu gangguan apa yang dialami oleh buah hati Bunda. Bunda dapat memperhatikan si anak dan memberikan informasi awal kepada tim ahli Kami agar Kami dapat melakukan evaluasi dan memberikan rekomendasi terapi yang tepat untuk anak Anda.

Sebelum terapis memberikan terapi, anak-anak akan dievaluasi terlebih dahulu mengenai gejala yang dialami. Jenis terapi yang sama bisa diterapkan untuk anak-anak dengan kategori gangguan berbeda, seperti terapi okupasi dengan pendekatan terapi yang berbeda untuk anak Autis ataupun ADHD. Demikian juga halnya dengan terapi wicara. Terapi yang diberikan tergantung kepada hasil evaluasi yang dilakukan terhadap buah hati bunda.

Berikut adalah gejala-gejala umum yang mungkin dialami oleh anak Bunda.

Keterlambatan atau Gangguan Bicara

  • Mengalami kesulitan belajar berbicara, biasanya si anak belum mengucap kata pertamanya pada usia 15 bulan
  • Kesulitan menirukan dan mengucapkan beberapa atau semua kata dalam bentuk suara, biasanya si anak belum bisa menyusun kata-kata saat mereka menginjak usia 2 tahun
  • Kesulitan menunjukkan keinginan dalam bentuk perkataan dan menimbulkan rasa frustasi sehingga menimbulkan tingkah laku tantrum
  • Kesulitan bermain atau berbicara dengan anak lain
  • Gagap

Autis atau ASD (Autism Spectrum Disorder)

Gangguan ini sering diasosiasikan dengan anak yang penyendiri dan hanya fokus terhadap benda atau kegiatan tertentu. Selain itu, mereka tidak peka terhadap lingkungan sekitar dan akan sangat marah ketika aktifitas atau fokusnya diganggu.

  • Menghindari atau tidak menjaga kontak mata
  • Tidak merespons nama dan tidak berekspresi senang, sedih, marah pada usia 9 bulan
  • Tidak memainkan permainan interaktif sederhana pada usia 12 bulan
  • Menggunakan sedikit atau tidak ada gerakan, seperti melambaikan tangan, sama sekali pada usia 12 bulan
  • Tidak berbagi minat atau bermain dengan orang lain pada usia 15 bulan
  • Tidak tertarik dengan hal baru yang menarik pada usia 18 bulan
  • Tidak menyadari ketika orang lain terluka atau kesal pada usia 24 bulan
  • Tidak memperhatikan anak-anak lain dan ikut bermain dengan mereka pada usia 36 bulan
  • Tidak mampu berimajinasi dengan berpura-pura menjadi orang lain, seperti guru atau pahlawan super, saat bermain pada usia 48 bulan
  • Bermain dengan mainan yang sama dan cara yang sama setiap saat
  • Menunjukkan kekesalan jika posisi atau urutan mainannya dirubah
  • Mengatakan hal yang sama atau melakukan gerakan yang sama berulang-ulang

ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder)

Gejala ADHD atau sering juga disebut ADD pada anak-anak dan remaja biasanya sudah terlihat sebelum usia 6 tahun baik di rumah, sekolah ataupun lingkungan pergaulannya. Mereka biasanya sangat tidak fokus, ceroboh, mudah teralihkan dan selalu bergerak. Akibatnya mereka sering menimbulkan masalah di sekolah, berinteraksi sosial dengan teman sebaya maupun orang lain serta mempunyai masalah disiplin.

  • Mudah terganggu atau teralihkan oleh hal lain yang lebih menarik
  • Membuat kesalahan yang ceroboh – misalnya, dalam tugas sekolah
  • Tampak pelupa atau kehilangan sesuatu
  • Tidak dapat melakukan tugas-tugas yang membosankan atau memakan waktu
  • Tidak dapat mendengarkan atau melaksanakan instruksi aktivitas atau tugas yang terus berubah
  • Mengalami kesulitan mengatur dan berkonsentrasi terhadap tugas
  • Tidak bisa duduk diam, terutama di lingkungan yang tenang atau sunyi
  • Terus-menerus gelisah
  • Melakukan gerakan fisik yang berlebihan
  • Berbicara berlebihan
  • Tidak bisa menunggu giliran
  • Bertindak tanpa berpikir dan tidak memikirkan bahaya
  • Suka menyela pembicaraan

Secara singkat perbedaan utama gejala Autis (ASD) dengan ADHD adalah anak autis biasanya terlalu fokus dan anak ADHD sangat tidak fokus.

Down Syndrome

Gejala Down Syndrome biasanya paling mudah dikenali karena mereka memiliki perawakan yang khas.

Down Syndrome (Sindrom Down) merupakan kelainan genetik atau bawaan yang mengakibatkan penderitanya mempunyai kecerdasan yang rendah serta kelainan fisik yang khas. Down syndrome yang dialami oleh penderitanya cukup beragam, seperti mengalami kelainan yang ringan, mengalami gangguan berat hingga menimbulkan penyakit jantung.

Down Syndrome adalah kelainan genetic yang cukup sering terjadi, hal ini merupakan salah satu penyakit yang disebabkan oleh kelainan kromosom. Mengacu pada data WHO, 3000 hingga 5000 bayi terlahir dengan kindisi down syndrome setiap tahunnya. Namun, jika diberikan dukungan dan penanganan yang tepat serta perhatian yang maksimal, penderitanya dapat hidup dengan sehat, mampu menjalani aktivitasnya secara mandiri hingga merekabisa hidup secara bahagia.

Gejala-gejala seperti di atas bukanlah halangan bagi buah hati Bunda untuk berkembang dan beradaptasi dengan lingkungan mereka. Penanganan melalui terapi yang tepat akan membantu menyiapkan buah hati Bunda untuk bisa segera beradaptasi sebelum terlambat.

Gangguan Temporer

Gangguan temporer atau sementara adalah gangguan yang disebabkan oleh kondisi lingkungan yang kurang menunjang perkembangan anak ataupun karena kecelakaan. Tidak digolongkan ke dalam autis ataupun ADHD karena biasanya yang dibutuhkan adalah terapi untuk membantu si anak segera beradaptasi dengan cepat. Contoh paling dekat adalah adanya pandemi Covid19 yang membuat anak-anak banyak di rumah baik untuk beraktifitas ataupun mendapatkan pendidikan sesuai usianya.

  • Terlalu banyak di rumah untuk ukuran anak seusianya sehingga kesulitan bergaul
  • Terlalu banyak bermain game
  • Kebiasaan belajar di rumah
  • Kecelakaan yang mengakibatkan patah tulang kaki atau tangan

Apakah anak saya memerlukan terapi?

Apakah buah hati bunda mengalami gangguan seperti di atas? Atau ada gejala-gejala lain? Jika masih ragu-ragu, bunda bisa segera konsultasikan kepada tenaga ahli di Terapeutik.id untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan Bunda mengenai gangguan yang dialami buah hati Bunda dan apakah memerlukan terapi untuk mengatasinya.

Open chat
Butuh bantuan?
Scan the code
Hi Bunda,

Ada yang bisa Kami bantu?